Dan suara nyaring anak-anak mengaji dikala magrib sudah hampir tiba pun kini sudah jarang terdengar lagi. Sebagai gantinya suara tivi yang menyiarkan berbagai aksi.
Dimanakah kau kini teman-temanku dulu....? Kita berteman sangat akrab dan kompak. Saat mengaji tiba kita berkumpul di Mushalla. Mengaji bersama. Atau juga bergantian. Dan kadang diselingi canda dan tawa disertai nasehat dari guru ngaji bahkan juga tongkat kayu yang dijatuhkan dengan kencang ke meja sehingga kita kaget dan berhenti bercanda tawa.
Dan acara itu...Festival Nasyid dan Rebana juga Musabaqah dan lomba pidato, sungguh memori yang indah. Walaupun di desa tetapi suasanaya cukup meriah.
Dengan kemajuan teknologi dan globalisasi, yang dulu tiap magrib mengaji kini sudah berganti menonton tivi, browsing ataupun chatting.
Ku rindu suasana dulu. Tapi kemana harus ku cari. Sesuatu yang mungkin sudah terkubur oleh peradaban zaman tanpa diketahui dimana kuburnya kini.
Bahkan lebih parah lagi, sungguh hati terasa perih, anak-anak remaja kini....dengan pergaulan bebas, nongkrong dipinggir jalan, petik gitar, dan kadang tangan pegang botol minuman. Doyan mabuk-mabukan. Itulah baginya suatu kebanggaan.
Suatu pencarian! Mencari jati diri, mencari idola, mencari pengisi relung kosong di jiwa!
Ya....Puisi ku dulu kini terbukti...
Kebudayaan adalah kota....
Kini kota ku berlumur lumpur nista...
dimasuki anasir asing yang berbahaya....dst..
Inikah hasil pembangunan. Atau sebuah ekses yang terlupakan!
(bersambung...)
Dimanakah kau kini teman-temanku dulu....? Kita berteman sangat akrab dan kompak. Saat mengaji tiba kita berkumpul di Mushalla. Mengaji bersama. Atau juga bergantian. Dan kadang diselingi canda dan tawa disertai nasehat dari guru ngaji bahkan juga tongkat kayu yang dijatuhkan dengan kencang ke meja sehingga kita kaget dan berhenti bercanda tawa.
Dan acara itu...Festival Nasyid dan Rebana juga Musabaqah dan lomba pidato, sungguh memori yang indah. Walaupun di desa tetapi suasanaya cukup meriah.
Dengan kemajuan teknologi dan globalisasi, yang dulu tiap magrib mengaji kini sudah berganti menonton tivi, browsing ataupun chatting.
Ku rindu suasana dulu. Tapi kemana harus ku cari. Sesuatu yang mungkin sudah terkubur oleh peradaban zaman tanpa diketahui dimana kuburnya kini.
Bahkan lebih parah lagi, sungguh hati terasa perih, anak-anak remaja kini....dengan pergaulan bebas, nongkrong dipinggir jalan, petik gitar, dan kadang tangan pegang botol minuman. Doyan mabuk-mabukan. Itulah baginya suatu kebanggaan.
Suatu pencarian! Mencari jati diri, mencari idola, mencari pengisi relung kosong di jiwa!
Ya....Puisi ku dulu kini terbukti...
Kebudayaan adalah kota....
Kini kota ku berlumur lumpur nista...
dimasuki anasir asing yang berbahaya....dst..
Inikah hasil pembangunan. Atau sebuah ekses yang terlupakan!
(bersambung...)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar